Kamis, 5 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
heydudeshoesforgirls.comheydudeshoesforgirls.com
heydudeshoesforgirls.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Tiap Pagi Baca Koran Digital, Pensiunan Ini Akhirn...

Tiap Pagi Baca Koran Digital, Pensiunan Ini Akhirnya Sadar Satu Hal

Cerita pensiunan yang rutin baca berita digital tiap pagi, dan pelajaran praktis soal memilah informasi di usia senja.

Tiap Pagi Baca Koran Digital, Pensiunan Ini Akhirnya Sadar Satu Hal

Pak Haris, tetangga saya di kompleks, punya ritual yang tidak pernah berubah sejak pensiun tiga tahun lalu. Jam enam pagi, ia sudah duduk di teras dengan secangkir kopi dan tablet tua pemberian anaknya. Layar itu dibuka, lalu jarinya mulai geser ke sana kemari — membaca berita dari tiga portal sekaligus. "Biar nggak ketinggalan zaman," katanya suatu pagi sambil nyengir.

Tapi beberapa minggu lalu, ia mampir ke rumah saya dengan muka agak bingung. Katanya, ia hampir percaya satu berita soal "bansos tambahan" yang beredar di grup WhatsApp. Untung sebelum ia teruskan ke grup keluarga, istrinya sempat tanya: "Ini sumbernya dari mana?" Pertanyaan sederhana itu yang bikin ia berhenti dan berpikir.

Baca juga: Nestapa Anak Kandung jadi Budak Nafsu Ayah yang Pejabat di Raja Ampat

Nah, dari obrolan panjang kami itulah artikel ini lahir. Bukan soal teknologi canggih, tapi soal kebiasaan kecil yang bisa bikin kita, terutama yang sudah sepuh, tetap tenang dan cerdas dalam mengonsumsi berita.

Kenapa Pensiunan Justru Paling Rentan Kena "Berita Aneh"

Ini bukan soal kurang pintar, ya. Justru banyak pensiunan yang pendidikannya tinggi dan pengalamannya luas. Masalahnya lebih ke waktu luang yang banyak plus lingkaran sosial yang aktif di WhatsApp. Dua hal ini kalau nggak diimbangi kebiasaan cek sumber, bisa jadi kombinasi yang rawan.

Saya perhatikan sendiri di grup-grup keluarga. Pesan berantai soal kesehatan, politik, sampai "pengumuman resmi" yang ujung-ujungnya hoaks, sering banget masuk. Dan karena dikirim oleh orang yang kita percaya — kakak, teman lama, tetangga — kita cenderung langsung percaya. Padahal pengirimnya juga cuma meneruskan dari orang lain.

Pak Haris bilang begini, dan saya kutip hampir persis: "Dulu zaman saya kerja, berita itu ya dari koran atau TV. Sumbernya jelas. Sekarang semua orang bisa jadi penerbit, jadi saya harus lebih hati-hati."

Kalimat itu sederhana, tapi jujur saja, banyak orang seusianya belum sampai ke titik sadar seperti itu.

Ritual Pagi yang Ia Ubah Sedikit demi Sedikit

Yang menarik, Pak Haris tidak lantas berhenti baca berita. Ia cuma mengubah cara bacanya. Dan perubahannya tidak dramatis — justru itu yang bikin bertahan sampai sekarang.

Tiga kebiasaan kecil yang ia terapkan

  • Cek nama media dulu, baru baca isinya. Kalau nama situsnya tidak pernah ia dengar dan tidak ada alamat redaksi yang jelas, ia lewati. "Mending buang waktu 10 detik daripada nanti salah kirim," katanya.
  • Bandingkan dua sumber untuk berita "yang bikin kaget". Kalau judulnya bikin jantung berdebar — misalnya soal dana pensiun atau aturan baru — ia buka satu portal lain dulu. Kalau tidak ada yang memberitakan hal serupa, ia tunda percaya.
  • Tidak meneruskan apa pun sebelum jam makan siang. Ini ide istrinya. Pagi itu waktu rawan emosi dan tergesa-gesa. Menunda beberapa jam ternyata cukup untuk mendinginkan kepala.

Kelihatannya sepele. Tapi coba bayangkan kalau kebiasaan ini dilakukan tiap pagi selama sebulan. Efeknya bukan cuma soal hoaks, tapi juga soal ketenangan batin. Pak Haris mengaku tidurnya lebih nyenyak karena tidak lagi gelisah memikirkan berita-berita "mencekam" yang ternyata belum tentu benar.

Bukan Cuma Soal Hoaks — Ini Soal Kesehatan Mental

Ini bagian yang sering dilupakan. Kita tahunya berita palsu itu masalah informasi. Padahal dampaknya ke perasaan juga nyata. Saya pernah baca beberapa kajian yang intinya bilang: terus-menerus terpapar berita negatif bisa bikin cemas dan lelah secara emosional. Untuk pensiunan yang seharusnya menikmati masa tenang, ini sayang banget kalau dibiarkan.

Pak Haris cerita, dulu ia sering bangun pagi dengan perasaan was-was setelah semalam baca berita soal ekonomi atau konflik. Sekarang, karena ia lebih selektif, paginya terasa lebih ringan. "Saya pensiun mau tenang, bukan mau ikut pusing tiap hari," ujarnya sambil ketawa.

Berita itu seperti makanan. Kita butuh, tapi harus tahu mana yang bergizi dan mana yang cuma bikin perut mules.

Saya setuju banget dengan perumpamaan itu. Dan lucunya, Pak Haris bukan orang yang anti-teknologi. Ia tetap baca berita digital, tetap aktif di grup keluarga. Bedanya, sekarang ia punya "rem" yang berfungsi.

Yang Bisa Kamu Coba Mulai Besok Pagi

Kalau kamu atau orang tua kamu punya ritual pagi yang mirip Pak Haris, coba tiga langkah ini. Nggak perlu alat baru, nggak perlu aplikasi mahal.

Pertama, pilih dua atau tiga portal berita yang kredibel dan jadikan itu "langganan" pagi kamu. Sisanya, anggap angin lalu. Terlalu banyak sumber justru bikin bingung.

Kedua, biasakan tanya "siapa yang bilang?" sebelum percaya. Kalau berita itu tidak menyebut sumber jelas, atau sumbernya cuma "kata orang", tinggalkan.

Ketiga, kalau mau meneruskan pesan ke grup keluarga, tunggu sampai siang. Saya jamin, sebagian besar pesan yang tadinya terasa mendesak, setelah ditunda, jadi terasa biasa saja — atau bahkan ketahuan hoaks.

Pak Haris sekarang malah jadi semacam "penjaga grup" di keluarganya. Kalau ada pesan aneh, ia yang pertama tanya: "Sumbernya mana?" Anak-anaknya sampai geleng-geleng kepala, tapi bangga. Katanya, "Bapak sekarang lebih teliti dari kami."

Dan itu, menurut saya, pencapaian yang jauh lebih berharga daripada sekadar bisa buka banyak aplikasi berita. Karena pada akhirnya, jadi pensiunan yang melek informasi bukan soal seberapa cepat kita tahu, tapi seberapa bijak kita menyaring. Selamat mencoba ritual pagi yang lebih tenang, ya.

Tags: berita digital pensiunan literasi media kebiasaan pagi informasi sehat