, ,

Duka Cita di Bumi Cendrawasih: Dua Prajurit TNI Gugur dalam Dua Serangan Terpisah Kelompok Bersenjata di Papua

INFO Kumurkek- Dalam rentang waktu yang berduka, dua prajurit TNI harus meregang nyawa dalam tugas menjaga kedaulatan negara di tanah Papua. Keduanya gugur dalam insiden terpisah yang dilakukan oleh kelompok bersenjata, Organisasi Papua Merdeka (OPM), di dua lokasi yang berbeda dalam satu hari yang kelam. Peristiwa ini kembali menyoroti kerawanan keamanan dan harga mahal yang harus dibayar untuk menjaga perdamaian di wilayah pedalaman Papua.

Insiden Bersenjata Di Papua Tewaskan Dua Prajurit Penjaga Kedaulatan
Insiden Bersenjata Di Papua Tewaskan Dua Prajurit Penjaga Kedaulatan

Baca Juga : Aksi Biadab Merenggut Nyawa Ibu Melani, Sang Guru Pejuang

Korban Jiwa di Medan Pengabdian

Kedua prajurit yang gugur tersebut adalah:

  1. Praka Amin Nurohman, personel Satgas Yonif 410/Alugoro, yang gugur di Kampung Moyeba, Distrik Moskona Utara, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat.

  2. Letda Inf Fauzy Ahmad Sulkarnain (23), personel Satgas Pamtas Statis RI-PNG Yonif 753/AVT, yang gugur dalam kontak tembak di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan.

Kedua jenazah telah berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian dan sedang dalam proses pemulangan menuju rumah duka masing-masing di Kebumen, Jawa Tengah, dan Pangkep, Sulawesi Selatan. Sementara itu, operasi pengejaran terhadap para pelaku penyerangan masih terus dilakukan dengan intensif.

Kronologi Kesedihan di Teluk Bintuni: Dari Silaturahmi Berubah Jadi Tragedi

Insiden yang merenggut nyawa Praka Amin Nurohman bermula dari sebuah aktivitas yang justru penuh kedamaian. Saat itu, tim Satgas Yonif 410/Alugoro sedang melaksanakan anjangsana atau kunjungan silaturahmi kepada warga di Kampung Moyeba, Moskona Utara. Dalam momen yang seharusnya membangun kedekatan dengan masyarakat tersebut, tiba-tiba kelompok OPM pimpinan Demi Moss dari Kodap IV Sorong Raya melancarkan serangan mendadak.

Kapendam XVIII/Kasuari, Letkol Inf J Daniel P Manalu, dalam keterangannya dengan tegas mengutuk aksi keji ini. “Penyerangan ini menimbulkan satu putra terbaik TNI, Praka Amin Nurohman, gugur dalam penugasan. Selain itu, satu pucuk senapan almarhum dirampas oleh kelompok tersebut,” tuturnya.

Tragedi ini bukan hanya merenggut nyawa seorang prajurit, tetapi juga meninggalkan luka yang dalam bagi keluarganya dan rekan-rekannya di satuan. Jenazah Praka Amin kini sedang dalam perjalanan pulang ke tanah kelahirannya di Kebumen untuk beristirahat dengan tenang.

Duka di Perbatasan Kiwirok: Gugur Saat Menjaga Garis Terdepan Negara

Sementara duka masih menyelimuti Teluk Bintuni, kabar pilu datang dari perbatasan Papua Pegunungan. Letda Inf Fauzy Ahmad Sulkarnain, seorang perwira pertama muda yang baru berusia 23 tahun, gugur dalam baku tembak dengan kelompok OPM di kawasan Kiwirok yang dikenal terpencil dan berbukit.

Letda Fauzy gugur saat menjalankan tugas pokoknya: berpatroli untuk mengamankan wilayah perbatasan RI-Papua Nugini. Serangan mendadak yang dilancarkan kelompok bersenjata itu memutuskan harapan dan mengakhiri pengabdiannya di usia yang sangat muda.

Kabar gugurnya Letda Fauzy dibenarkan langsung oleh keluarganya di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Serma Sulkarnain, ayah almarhum, dengan berat hati menerima kenyataan pahit itu. “Saya terima kabar (Letda Fauzy gugur) itu kemarin sore,” ujarnya, mengungkapkan duka yang tak terperi di rumah duka.

Komitmen TNI dan Luka yang Tertinggal

Menanggapi dua insiden berdarah ini, institusi TNI, dalam hal ini Kodam XVIII/Kasuari, menyatakan komitmennya untuk tidak tinggal diam. Mereka bertekad untuk mengejar dan menangkap semua pelaku yang terlibat dalam penyerangan keji ini. Komitmen ini bukan hanya tentang penegakan hukum, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap pengorbanan kedua prajuritnya.

Kedua insiden ini menjadi pengingat pahit betapa kompleksnya situasi keamanan di Papua. Di balik tugas-tugas kemanusiaan dan pembinaan wilayah, para prajurit di garis depan terus menghadapi ancaman yang nyata. Gugurnya Praka Amin Nurohman dan Letda Inf Fauzy Ahmad Sulkarnain bukan sekadar statistik, tetapi sebuah kisah tentang pengorbanan, loyalitas, dan cinta mereka pada tanah air yang harus berakhir dengan cara yang paling tragis. Kedua prajurit ini kini telah menyelesaikan tugas terakhirnya, meninggalkan duka mendalam bagi bangsa, korps, dan terutama keluarga yang mereka tinggalkan.

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.