Gelombang Kekecewaan di Ujung Timur: Gangguan Internet Berulang Lumpuhkan Ekonomi dan Picu Kerusuhan di Merauke
INFO Kumurkek– Di era dimana konektivitas adalah nadi kehidupan, warga Merauke, Papua Selatan, kembali terpaksa menjalani hari-hari dalam kesenyapan digital. Gangguan jaringan internet yang terjadi sejak Sabtu, 16 Agustus 2025, bukan hanya sekadar gangguan teknis biasa. Ia adalah titik puncak dari rentetan masalah yang telah berlangsung hampir satu dekade, yang akhirnya memicu ledakan amarah massa yang berujung ricuh pada Kamis (21/08).
Akar masalahnya terletak pada rusaknya kabel bawah laut Sistem Komunikasi Kabel Laut-Sulawesi Maluku Papua Cable System (SKKL-SMPCS) di ruas Sorong-Merauke. Bagi dunia luar, ini mungkin hanya sekadar berita singkat. Namun bagi pelaku usaha, pekerja lepas, dan masyarakat Merauke, ini adalah bencana yang melumpuhkan penghidupan dan memutus silaturahmi.
Drama Kelumpuhan Ekonomi Digital
Dampak paling nyata terasa di sektor ekonomi yang mengandalkan platform digital. Angelbertus Farel, seorang pengemudi ojek online (ojol), merasakan betul dampaknya. Aktivitasnya yang sepenuhnya bergantung pada aplikasi terpaksa lumpuh total.

Baca Juga: Bumi Bekasi Bergetar Kembali, BMKG Catat Gempa Magnitudo 3.2 Pagi Ini
“Pendapatan kami justru tidak ada sama sekali selama jaringan internet mati, dari hari pertama sampai saat ini. Kita tidak ada pemasukan,” keluh Farel. Dalam kondisi normal, ia bisa membawa pulang Rp100.000 hingga Rp200.000 per hari, termasuk bonus dari aplikasi. Kini, untuk menyambung hidup, ia terpaksa bekerja serabutan di bengkel motor dengan penghasilan yang tidak menentu, hanya sekitar Rp30.000 – Rp50.000 per hari.
Nasib serupa dialami Sisilia Weni, penjual makanan siap saji secara daring. Bisnis katering online yang ia jalani melalui Facebook biasanya menghasilkan rata-rata Rp3 juta per bulan. Gangguan internet memaksa ia kembali ke cara konvensional, menjual secara offline, yang hasilnya anjlok drastis.
“Kalau jaringan mati begini, penghasilan menurun, kadang Rp500.000, kadang Rp600.000. Karena jaringan mati, saya jual secara offline,” ujarnya dengan nada kecewa.
Tidak hanya urusan perut, kreativitas juga terhambat. Elisabeth Kartini, seorang ibu rumah tangga yang juga kreator konten, mengaku pendapatannya dari media sosial terputus. “Saya konten kreator, sehari-hari sering membagikan video, vlog atau siaran langsung di Facebook. Saat jaringan mati begini, tentu macet,” katanya.
Untuk sekadar mengakses internet, warga seperti Kartini dan Sisilia terpaksa mencari tempat yang menyediakan layanan satelit seperti Starlink, dengan tarif yang tidak murah: Rp10.000 per jam. Sebuah biaya tambahan yang harus ditanggung di tengah pendapatan yang merosot.
Kekecewaan yang Meledak: Dari Unjuk Rasa Hingga Ricuh
Kekecewaan yang terakumulasi selama bertahun-tahun akhirnya meledak. Sekitar 1.000 orang yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Masyarakat Kabupaten Merauke memenuhi Kantor Telkom Indonesia Daerah Merauke pada Kamis (21/08). Spanduk-spanduk dikibarkan, yel-yel “Bakar Telkom!” menggema, mencerminkan amarah yang sudah tak terbendung.
Aksi damai itu berubah panas ketika massa, yang frustasi karena tidak mendapat jawaban pasti, mulai melempari gedung Telkom dengan batu, kayu, dan botol. Molotov dan ban bekas yang dibakar juga diterjunkan ke dalam kompleks kantor. Massa membakar ban di halaman dan menghancurkan hampir semua kaca jendela. Upaya pembubaran oleh aparat keamanan memicu bentrokan. Batu dan kayu berbalas dengan gas air mata. Situasi mencekam itu akhirnya dapat diredam pada sore hari, dengan korban luka-luka dari kedua belah pihak, meski dilaporkan ringan.
Tuntutan yang Terpendam Sejak 2016
Koordinator aksi, Andika Labobar, menegaskan bahwa kerusuhan ini adalah puncak gunung es. “Ini merupakan puncak kemarahan masyarakat Merauke. Sejak 2016 telah terjadi delapan kali penurunan kualitas layanan internet, dan tidak pernah ada evaluasi dari pihak Telkom maupun pemerintah,” tegasnya.
Aliansi masyarakat tidak hanya menuntut perbaikan segera. Mereka mendesak komitmen Telkom untuk membangun jalur cadangan (redundancy), transparansi anggaran, dan yang paling krusial, agar pemerintah memfasilitasi masuknya provider lain ke Merauke untuk menciptakan persaingan sehat. Mereka juga menuntut kompensasi yang layak bagi semua pengguna yang terdampak.
“Pemerintah seakan tutup telinga terkait masalah ini. Delapan kali terjadi gangguan, tapi pemerintah tidak punya langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah internet di Papua Selatan,” tutur Andika.
Respons Telkom dan Jalan Panjang ke Depan
Menanggapi krisis ini, PT Telkom Indonesia melalui pernyataan tertulisnya menyatakan komitmen untuk mempercepat pemulihan. Kapal perbaikan khusus telah dikerahkan dan ditargetkan dapat menyelesaikan perbaikan tahap awal selambat-lambatnya pada minggu pertama September 2025.
Sebagai langkah darurat, Telkom telah mendirikan Posko Merah Putih di dua lokasi dan menyiapkan mekanisme kompensasi. Bagi pengguna Telkomsel, diberikan perpanjangan masa aktif dan paket SMS murah. Pelanggan IndiHome akan mendapat potongan tagihan, begitu pula dengan pelanggan bisnis.
Namun, bagi warga Merauke, kompensasi materi mungkin hanya sedikit pereda. Yang mereka harapkan adalah solusi permanen. Gangguan yang terjadi pada 2023 lalu yang berlangsung lebih dari dua bulan, kemudian terulang lagi di awal 2024, menjadi bukti bahwa perbaikan tambal sulam tidak lagi cukup.
Elisabeth Kartini menyuarakan harapan banyak orang: “Kita berharap Telkom segera memperbaiki, dan ke depannya tidak terulang lagi.” Ia juga berharap pemerintah bisa mendorong masuknya provider lain agar masyarakat punya pilihan.
Insiden di Merauke adalah potret nyata ketimpangan digital dan ketergantungan pada satu infrastruktur yang rentan. Ia adalah alarm keras bahwa di tengah gegap gempita transformasi digital nasional, masih ada daerah yang terjebak dalam isolasi digital berulang. Kabel bawah laut yang putus bukan hanya memutus data, tetapi juga memutus napas ekonomi, memutus kreativitas, dan pada akhirnya, mengikis kesabaran sebuah masyarakat yang merasa telah terlalu lama dipinggirkan. Perbaikan kabel di laut mungkin akan selesai pada September, tetapi memulihkan kepercayaan warga Merauke akan membutuhkan usaha dan komitmen yang jauh lebih dalam.



