Festival Rajut Noken Kemerdekaan: Semangat Kreativitas Mama Papua di Teluk Bintuni
Info Kumurkek- Puluhan mama Papua dari Distrik Bintuni dan Manimeri menunjukkan antusiasme tinggi dalam Festival Rajut Noken Kemerdekaan yang digelar pada Sabtu, 16 Agustus 2025. Acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Phapeda Teluk Bintuni ini tidak hanya menjadi ajang unjuk keterampilan, tetapi juga memperkuat kebanggaan akan warisan budaya noken sebagai simbol identitas masyarakat Papua.

Baca Juga : Harga Rp189 Jutaan, Mitsubishi Expander Mirip Pajero Sport
Semangat Kebersamaan dalam Technical Meeting
Sebelum festival dimulai, para peserta berkumpul dalam technical meeting yang digelar di Rumah Makan Ny. Meneer, Kampung Lama, Teluk Bintuni. Dari total 78 peserta yang mendaftar, sebagian besar adalah mama-mama Papua yang bersemangat mempersiapkan diri untuk kompetisi ini.
Panitia menjelaskan beberapa aturan penting, termasuk kriteria noken yang akan dilombakan. Peserta diperbolehkan menyelesaikan 80% rajutan di rumah, dengan ukuran minimal 20 cm x 20 cm. Sisa pengerjaan harus diselesaikan langsung di lokasi festival, yakni di ruas jalan Bintuni-Kalitubi, dengan ukuran akhir 20 cm x 25 cm, lengkap dengan tali gantungan.
“Festival dimulai tepat pukul 08.00 WIT dan harus selesai sebelum pukul 10.00 WIT untuk dipamerkan,” jelas Rasyid Woretma, salah satu panitia penyelenggara.
Gratis Pendaftaran, Hadiah Menarik untuk Peserta
Yang membuat festival ini semakin istimewa adalah pendaftaran yang gratis. Bahkan, setiap peserta mendapatkan perlengkapan merajut secara cuma-cuma, termasuk benang, hakpen (jarum rajut tradisional), dan gunting.
Tak hanya itu, semua peserta yang berhasil menyelesaikan noken-nya akan menerima insentif uang kreativitas sebesar Rp200.000. Bagi yang karyanya terpilih sebagai noken favorit, hadiahnya jauh lebih menggiurkan:
-
Juara Favorit I: Rp1,5 juta
-
Juara Favorit II: Rp1 juta
-
Juara Favorit III: Rp750.000
“Penilaian noken favorit sepenuhnya ditentukan oleh pengunjung, bukan panitia,” tegas Rasyid. Hal ini menambah keseruan festival, karena masyarakat setempat bisa turut serta memilih karya terbaik.
Noken: Warisan Budaya yang Tetap Lestari
Noken, tas tradisional yang terbuat dari serat alam, telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2012. Festival ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga upaya melestarikan keterampilan turun-temurun yang menjadi kebanggaan masyarakat Papua.
Melalui kegiatan seperti ini, Yayasan Phapeda Teluk Bintuni berharap dapat memberdayakan mama-mama Papua sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda. Semangat kemerdekaan tidak hanya tentang kebebasan, tetapi juga tentang menghargai dan melestarikan identitas budaya.



